T-rex 8-bit itu melompati kaktus diiringi bunyi nyaring yang memuakkan namun reptil raksasa lompat itu menjadi satu-satunya hiburan di kala malam tiba sehingga mustahil untuk membaca atau menggambar ditengah kegelapan total, bisa saja menggunakan cahaya lilin namun begitu cepat menyebabkan mata lelah karena terangnya yang tak seberapa. Lagipula Naomi benci lilin. Tidak ada alasan khusus, ia hanya membencinya. Seperti ia membenci permadani yang ujungnya terlipat, sofa yang sedikit miring sehingga permukaannya tak sejajar dengan lantai keramik dan sisa-sisa air pada dasar gelas. Seluruh benda-benda tersebut menimbulkan kebencian yang serupa. Kebencian yang dikarenakan rasa tak nyaman. Melihat lilin menyala dalam ruangan rasanya membuatnya gelisah seakan-akan harus segera dimatikan, seperti ia ingin sekali memutar sofa yang miring agar sejajar lantai keramik. Namun ia harus menahan cahaya lilin itu hingga cahaya matahari pagi menembus tirai jendelanya sebab lebih baik demikian daripada berada dalam kegelapan total. Tidak tahu apakah kebencian terhadap lilin bermula sebelum atau sesudah padamnya listrik terjadi, namun ia juga membenci fakta bahwa kini kehidupan malamnya bergantung pada benda itu. Ketika ia harus ke kamar mandi malam-malam ia juga harus membawa lilin yang ditaruh diatas piring plastik kecil sebagai tatakan.

Sudah dua hari berlalu tanpa adanya listrik begitu pula internet. Ajaib ponsel milik Naomi masih menyala selama empat hari penuh. Ia sengaja menyalakannya hanya di malam hari, namun kini layarnya sudah mulai redup, kepayahan hidup dengan sisa tenaga yang kurang dari 10 persen. Ia menyesal tidak menginstall banyak permainan pada ponselnya, sebenarnya tanpa permainan pun memori ponselnya sudah hampir penuh oleh koleksi foto dan lagu, sehingga ia hanya bisa memainkan dinosaurus 8 bit yang muncul setiap kali ia mengecek apakah sambungan internet sudah kembali normal. Namun itu tidak mungkin. Seharusnya lampu akan menyala terlebih dahulu sebelum internet berjalan lagi. Jadi yang ia lakukan sebenarnya sia-sia.

Hari ketika seluruh jaringan listrik mendadak padam adalah hari yang berjalan normal dan cenderung monoton bagi Naomi. Siang itu Ia sedang berada di kelas, membaca buku kumal The origin of species karya Darwin yang dipinjamnya dari perpustakaan.

Advertisements

I haven’t write about this significant man for awhile now. Actually it’s a huge progress. I only think of him occasionally.  But somehow after four years, the feeling couldn’t just disappear.  Do human possible of only loving another for the rest of its life? It’s a pretty cool concept, but actually I’m dying to love again.

I taught myself to let go, knowing that he will be a successful one, meanwhile I can’t think of myself having extraordinary life in the future. I think I will always have this normal life and I realized I won’t match him. And that’s what makes me to eventually let him go. In the last letter he gave me, he said we will be living in different world, you wouldn’t understand about my life, (I think that’s what he meant. )  Come to think about it, then yes, he was true. I’m no match for him after all.

 

 

 

 

 

 

I want to forget about him completely.

 

 

 

 

 

I want to love again.

 

sederhana dan tidak boros

akhir-akhir ini dua teman saya mengatakan hal yang serupa. Keduanya mencoba ‘mendeskripsikan’ kepada saya tentang teman mereka yang belum punya pacar. Katanya kedua lelaki yang mereka sebutkan itu tidak muluk-muluk soal wanita. Yang penting terlihat sederhana dan tidak boros. Lalu saya berpikir, mungkinkah image yang melekat pada diri saya adalah seperti demikian? Seorang wanita yang sederhana dan tidak boros? Kalau iya, saya jujur lebih senang mendengarnya, ketimbang harus menyandang image-image lain yang sedang ‘trend’ di kalangan wanita seusia saya.

Saya jadi berpikir, apa sebenarnya di luar sana banyak yang mencari seseorang yang ‘sederhana dan tidak boros’ seperti saya? Namun kata sederhana dan tidak boros tersebut kurang tepat dari diri saya yang sebenarnya. Kalau perjodohan dilakukan seperti seseorang hendak membeli suatu barang, mungkin saya akan lebih tepat bila dideskripsikan demikian:

Wanita ini sederhana secara penampilan, karena kehilangan motivasi untuk bersolek. Ia termasuk tipe wanita yang bersolek bila mulai tertarik pada seseorang. Tapi karena saat ini sedang tidak tertarik dengan apapun dan siapapun, maka ia tampak lebih kacau dari definisi sederhana. Tapi jangan khawatir, sebanyak apapun usahanya dalam bersolek, gaya yang ia sukai adalah gaya yang sederhana dan baju-baju yang sopan. Membenci baju yang ‘pas’ dengan bentuk tubuhnya karena tidak percaya diri terhadap bentuk tubuh sendiri sehingga lebih menyukai baju yang kelonggaran. Tidak menyukai make up karena hidungnya mudah gatal dengan butiran mikroskopis yang menyapu wajahnya. Sehingga untuk acara formal ia cukup memakai pewarna bibir untuk menunjukkan sedikit kehidupan pada wajahnya.

Bila dibandingkan dengan wanita yang suka membeli barang bermerk, wanita ini cukup hemat karena ia tidak berbelanja hal-hal tersebut. Namun terkadang lepas kontrol dan membeli buku-buku impor secara berlebihan yang walaupun sudah dibeli masih bertengger diam di rak bukunya (belum dibaca). Memiliki kecenderungan untuk mengoleksi barang-barang. Membeli sealbum postcard yang tidak akan diberikan pada siapapun, membeli CD-CD lagu yang hanya dibuka sekali, membeli figurine, membeli lego mini figure yang harus diraba sehingga harus beli berulang kali sampai mendapat karakter yang diinginkan, ya begitulah barang-barang yang ia beli, tapi pengeluarannya sebagian besar dikeluarkan untuk buku.

 

 

 

saya ini aku

aku ini saya.

saya paling senang menulis biodata, waktu kecil saya selalu menulis biodata dengan serius karena saya pikir kalau biodata itu dibaca orang lain, mereka akan lebih mengerti saya. Atau sebenarnya saya mengharapkan respon “wah aku juga suka makanan ini”, “wah aku juga suka warna ini” dari teman-teman saya. Semakin tua, mengisi biodata bukan lagi mengisi daftar dengan jawaban setelah tanda titik dua. Biodata untuk orang seumuran saya sudah berupa paragraf.

Disini saya tidak ingin menulis biodata saya. Saya cuma mau menjelaskan sedikit tentang diri saya, untuk orang-orang yang akan membaca blog ini. Anda akan lebih menikmati tulisan saya kalau anda bisa setidaknya memikirkan seperti apa diri saya yang sebenarnya kan?

Saya akan menjelaskan diri saya seperti ini, kalau anda berada di sebuah ruangan yang penuh dengan perempuan (ya, karena ini sebuah perbandingan), maka anda bisa mendapati saya adalah perempuan yang berdiri di pojokan. Kerumunan orang membuat kepala saya pening dan dinding menjadi teman bisu yang baik dalam setiap kesempatan. Anda akan menyadari kehadiran saya di akhir acara (sungguh tidak bohong, teman-teman saya bahkan sulit menyadari kehadiran saya). Maka ketika saya mengetahui ada orang yang menyadari keberadaan saya, saya akan sangat menghargai orang tersebut. Rasanya ingin menyalami dan mengucapkan terimakasih.

Kemudian jika anda berada di ruang kelas dengan 40 murid yang duduk berdua-dua, saya adalah murid perempuan yang duduk di bangku paling pojok belakang kiri atau kanan kelas, biasanya saya akan (terlihat seperti sedang) mencatat pelajaran di buku tulis, padahal saya sedang menggambar. Atau saya akan (terlihat seperti sedang) membaca buku pelajaran, padahal saya membawa komik atau novel yang saya halangi dengan buku pelajaran. Wajah saya akan terlihat serius memperhatikan pelajaran, padahal saya sedang kesulitan mencerna maksud pelajaran itu. (Begitulah, saya ini tidak cerdas) Dan kebanyakan waktu istirahat saya pakai untuk tidur. Tempat pojokan itu favorit saya. Sebenarnya saya bingung, di satu sisi saya ingin orang lain menyadari kehadiran saya, di sisi lain saya ingin menghilang diantara mereka.

Nah, bukankah dari penjelasan di atas anda sudah memiliki gambaran tentang saya? Saya bukan orang yang antusias dan lebih cocok dibilang tipe orang yang menunggu peluang. Peluang untuk disadari, peluang untuk dikenali, peluang untuk diajak bicara, peluang untuk disukai, dan lain-lain. Saya tidak suka menjadi pusat perhatian dan lebih memilih pojok yang dingin dimana saya bisa melakukan apa yang saya inginkan. Saya suka menggambar, membaca, namun belum pernah berhasil membuat satu karya seni atau satu buku pun yang selesai dibuat. Seluruhnya setengah jadi. Saya bukan orang yang cerdas, saya mendapat nilai-nilai yang (sangat) buruk dalam pelajaran yang membutuhkan hitungan. Sebaliknya, saya suka pelajaran yang membuthkan hafalan, (kecuali bahasa mandarin).

Jadi, salam kenal?

 

 

terang dan gelap

Langit, Laut, Senja dan Malam. Langit dan Laut memperebutkan Malam, Senja ditengahnya. Malam memuja Langit tempatnya bebas berwarna. Laut dalam diam hitam menjaga Malam yang tak pernah menyadari keberadaannya karena lekatnya ia dan Langit. Senja menuliskan kisah yang tak berujung itu.

 

draft 5- part 2

…….

Dari arah dapur si lelaki muda memperhatikan si perempuan yang sedang menyentuh mahkota bunga krisan, kemudian kembali berkonsentrasi membuat teh. Tidak banyak makanan yang ia simpan berhubung ia hidup sendiri dalam rumah itu, namun menyimpan stok teh seduh merupakan suatu kewajiban. Ibunya sangat menyukainya dan hampir minum teh setiap saat. Seringkali ibunya berkhotbah bagai seorang spesialis teh ketika mereka sedang minum teh bersama, memperkenalkan macam-macam teh yang dikenalnya dan bagaimana masing-masing teh memiliki rasa yang khas. Ibunya lebih paham mengenai teh-teh yang berasal dari ruang lingkup benua Asia, disamping itu ia hanya sekedar mencicipi teh dari benua lain, membelinya pun jarang sekali. Assam, Darjeeling dan Ceylon yang ia paham betul merupakan teh-teh yang dinamakan berdasarkan provinsi dimana mereka ditanam. Assam dan Darjeeling berasal dari India, sedangkan Ceylon dari Srilangka.

“Assam rasanya mirip dengan teh hitam dari Indonesia, tapi rasanya jauh lebih kuat dan pahit. Sedangkan Darjeeling tumbuh di daerah yang lebih tinggi dari Assam, maka rasa dan aromanya cukup ringan dan cenderung wangi seperti bunga. Rasa Ceylon, seperti perpaduan rasa Assam dan Darjeeling.” Ucap ibunya fasih menerangkan kepada si lelaki muda yang pada saat itu belum mengenal segala macam jenis teh. Sebulan sekali mereka mengubah jenis teh yang akan diseduh sehingga mereka sudah mencicipi semua jenis itu. Mereka bergantian menyeduh teh.

Lama-kelamaan si lelaki muda menyadari perbedaan yang khas dari masing-masing teh. Membedakan Assam dan Darjeeling cukup mudah jika diperhatikan dengan seksama. Dari warna seduhannya saja sudah ketahuan perbedaanya. Aromanya juga. Assam memiliki warna yang lebih pekat daripada Darjeeling. Warna Darjeeling cenderung coklat muda kekuningan.

Ibunya menyukai Darjeeling karena rasanya ringan dan aromanya yang halus, menimbulkan perasaan yang menenangkan. Sedangkan si lelaki muda menyukai Assam yang memiliki rasa pekat dan aroma yang kuat. Namun alasan sebenarnya karena teh itu terasa nikmat apabila diminum dengan campuran susu.

Kebiasaan minum teh dari ibunya itu lantas menurun pada dirinya. Seluruh fakta mengenai teh dari sang ibu hingga kini melekat pada ingatannya. Si lelaki muda menyeduh teh dengan terampil, tanpa cela. Tanpa setetes pun air teh menyentuh permukaan meja dapur yang dingin.

draft 5-

  1.  Hujan dan Hutan

 

Ketika seseorang sepertiku menangis, menghilang adalah solusi terbaik. Menghilang yang kumaksud berbicara mengenai tubuhku yang akan diurai oleh bakteri saprofit dan jamur-jamur yang menumpang tumbuh memenuhi kulitku, menjadikan aku inang sumber kehidupan mereka. Seperti apa tampakku nanti? Ya. Aku ingin menghilang (mati).

…….

Di penghujung hari di dalam ruangan itu selalu tersisa dua siluet manusia duduk saling berjauhan namun gerak-geriknya cukup selaras. Seakan sinkron satu sama lain. Si perempuan yang ingin mati duduk membelakangi cahaya sehingga ia bisa melihat bayangannya yang tampak besar karena rambutnya yang panjang dan mengembang berantakan. Ia menggenggam sebuah buku tipis bergambar jenis spesies  bunga-bunga tropis, ia membolak-balik halamannya yang sudah rapuh, namun tatapannya kosong. Orang-orang yang melihatnya akan mengira kalau ia setengah tertidur dan tidak benar-benar membaca buku yang malang itu. Tubuhnya mematung, dengan hanya tangannya yang bergerak membalik halaman buku hingga ruangan itu akan dikunci ketika nampak warna hitam mendominasi langit.

 

Si lelaki muda, tingginya mungkin hanya setinggi telinga kanan si perempuan. Ya, telinga kanan, sebab telinga kirinya lebih rendah 0,5 mm dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Si lelaki muda yang ingin mati duduk menghadap cahaya sebelum cahaya itu benar-benar lenyap. Ia menikmati aliran cahayanya yang melewati kepalanya hingga ke ujung kusen jendela, mencoba menghargai kehangatan yang sudah lebih dulu lenyap ditelan dinginnya kaca. Di tangan lelaki muda itu terbuka sebuah buku tebal, tanpa gambar, Lain hal dengan buku si perempuan. Lelaki muda itu pun melakukan gerakan yang sama dan oleh anggota tubuh yang sama. Jemarinya yang panjang dan lentik menyibak halaman demi halaman dengan perlahan. Terkadang dipandanginya dulu jemarinya yang tumbuh panjang, namun tubuhnya tidak kunjung memperlihatkan pertumbuhan yang berarti. Konon jemari panjang dimiliki orang bertubuh tinggi, semoga saja itu bukan mitos belaka.

 

Si perempuan terkadang menoleh untuk memeriksa sekelilingnya, terkadang ia tidak sadar di luar sudah gelap. Dan pandangannya selalu menemukan lelaki muda yang duduk jauh darinya. Setiap hari, dalam kurun waktu tiga bulan tahun ajaran yang serasa seperti satu abad yang tidak pernah selesai. Lelaki muda itu kurus, dan seragam yang dipakainya sudah luntur. Rambutnya kecokelatan ketika diterpa cahaya senja dan si perempuan tidak pernah melewatkan momen itu setiap harinya. Memandang wajah si lelaki muda tersiram cahaya jingga keemasan. Ketika pertama kali memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama, wajahnya tampak aneh. Cekungan matanya dalam dan garis-garis kantong mata yang menghitam menghiasi bagian bawah matanya yang agak sipit. Bola matanya bulat kecil, menyisakan sklera yang memiliki banyak ruang dalam matanya. Dan alisnya tebal seperti orang Timur Tengah. Perpaduan yang aneh antara Asia Timur dan Tengah. Namun setelah tiga bulan berlalu, penilaian mengenai karakteristik fisik itu bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ketika mengambil buku baru, si perempuan menyempatkan diri memperhatikan lelaki muda itu dengan lebih dekat. Ia menghafal kebiasaan gerak-gerik bibir lelaki muda itu ketika membaca, ia penasaran bagaimana suara lelaki muda itu. Tangannya yang sering mengurut dahinya seakan otaknya sedang mencerna sesuatu yang berat, buku-buku seperti apa yang dibacanya, dan imajinasi si perempuan mengenai lelaki muda itu. Terkadang imajinasinya hampir keluar batas usianya.

Dalam kurun waktu tiga bulan rambutnya yang sebelumnya tidak menyentuh leher kini sudah mencium kerah baju seragamnya, Semakin hari semakin panjang melebihi kerah, hingga suatu hari ia datang dengan potongan rambut yang berantakan namun pendek, kembali memperlihatkan lehernya yang telanjang. Si perempuan yakin rambutnya dipotong secara paksa oleh seseorang, tersangka utama yaitu para pahlawan tanpa tanda jasa namun terkadang tanpa toleransi. Dalam kurun waktu tiga bulan, seragamnya semakin lusuh, dari putih menjadi abu-abu muda, dari abu-abu muda menjadi abu-abu.

Tetapi, diluar perhatian akan rambutnya yang bak sangkar burung dan seragamnya yang seperti kain pel, gerakan yang dihasilkan oleh lelaki muda itu sungguh indah.

 

Pada bulan keempat, si perempuan menyadari kecantikan si lelaki muda itu. Seperti seorang androgini.

Lelaki muda itu bahkan lebih cantik dari dirinya, pikir perempuan itu.

Kalau ia mengenakan wig panjang dan wajahnya disapu make up tipis…. ah, si perempuan segera mengenyahkan pikiran itu. Lelaki muda itu tidak akan senang dengan imajinasinya.