sederhana dan tidak boros

akhir-akhir ini dua teman saya mengatakan hal yang serupa. Keduanya mencoba ‘mendeskripsikan’ kepada saya tentang teman mereka yang belum punya pacar. Katanya kedua lelaki yang mereka sebutkan itu tidak muluk-muluk soal wanita. Yang penting terlihat sederhana dan tidak boros. Lalu saya berpikir, mungkinkah image yang melekat pada diri saya adalah seperti demikian? Seorang wanita yang sederhana dan tidak boros? Kalau iya, saya jujur lebih senang mendengarnya, ketimbang harus menyandang image-image lain yang sedang ‘trend’ di kalangan wanita seusia saya.

Saya jadi berpikir, apa sebenarnya di luar sana banyak yang mencari seseorang yang ‘sederhana dan tidak boros’ seperti saya? Namun kata sederhana dan tidak boros tersebut kurang tepat dari diri saya yang sebenarnya. Kalau perjodohan dilakukan seperti seseorang hendak membeli suatu barang, mungkin saya akan lebih tepat bila dideskripsikan demikian:

Wanita ini sederhana secara penampilan, karena kehilangan motivasi untuk bersolek. Ia termasuk tipe wanita yang bersolek bila mulai tertarik pada seseorang. Tapi karena saat ini sedang tidak tertarik dengan apapun dan siapapun, maka ia tampak lebih kacau dari definisi sederhana. Tapi jangan khawatir, sebanyak apapun usahanya dalam bersolek, gaya yang ia sukai adalah gaya yang sederhana dan baju-baju yang sopan. Membenci baju yang ‘pas’ dengan bentuk tubuhnya karena tidak percaya diri terhadap bentuk tubuh sendiri sehingga lebih menyukai baju yang kelonggaran. Tidak menyukai make up karena hidungnya mudah gatal dengan butiran mikroskopis yang menyapu wajahnya. Sehingga untuk acara formal ia cukup memakai pewarna bibir untuk menunjukkan sedikit kehidupan pada wajahnya.

Bila dibandingkan dengan wanita yang suka membeli barang bermerk, wanita ini cukup hemat karena ia tidak berbelanja hal-hal tersebut. Namun terkadang lepas kontrol dan membeli buku-buku impor secara berlebihan yang walaupun sudah dibeli masih bertengger diam di rak bukunya (belum dibaca). Memiliki kecenderungan untuk mengoleksi barang-barang. Membeli sealbum postcard yang tidak akan diberikan pada siapapun, membeli CD-CD lagu yang hanya dibuka sekali, membeli figurine, membeli lego mini figure yang harus diraba sehingga harus beli berulang kali sampai mendapat karakter yang diinginkan, ya begitulah barang-barang yang ia beli, tapi pengeluarannya sebagian besar dikeluarkan untuk buku.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s