Sebuah awal sekaligus sebuah akhir. draft 2 –

Penari Terakhir

Ingatan tertua dalam hidupku yaitu pintu bagasi mobil yang terbuka, aku bahkan sudah lupa jenis mobil apa itu dan mengapa aku berada disana. Tubuhku belum cukup besar sehingga dapat terlentang dalam bagasi itu.  Cahaya kekuningan yang tajam seketika menusuk mataku yang bengkak, yang kucurigai hasil dari hantaman benda tumpul. Bau asap tembakau yang menyengat menyerbak kedalam hidungku yang berair. Siluet-siluet pria berbagai usia kemudian menghalangi cahaya itu. Aku tak hafal wajah mereka tapi mereka memiliki bau bacin yang sulit dilupakan. Aku baru sadar jauh setelahnya bahwa hampir seluruh pria yang berada didekatku berbau demikian. Ingatan sebelumnya tak pernah mampu kucapai, selalu buram, seakan hidupku bermulai ketika pintu bagasi mobil itu terbuka dan sinar yang menusuk itu menandai terlahirnya aku ke dunia. Ketika aku sadar aku sudah berada di tempat ini, sebuah jalan yang bukan lagi sebuah jalan, melainkan sebuah kompleks besar hiburan malam dan pusat perjudian. Terletak persis di pesisir pantai, berhimpitan dengan pelabuhan berbau amis, terdapat kompleks-kompleks gudang berdinding tebal yang minim jendela, peninggalan jaman Belanda.

 

Hari pertama aku datang dan tidur di gudang yang menjadi tempat tidur belasan anak kecil. Gudang tanpa beralaskan apapun, murni tidur diatas lantai kayu yang berderit dan kasar karena terkelupas.  Beberapa anak memakai kardus atau kain perca untuk menjadi alas tidur. Ada kelambu-kelambu dari kain-kain yang lebih baik kualitasnya karena lebih penting untuk tidak digigiti nyamuk daripada tidur tanpa alas. Aku dipaksa masuk dan walaupun baru berdiri di mulut ruangan, kakiku sudah bersentuhan dengan kaki-kaki lainnya. Ruangan itu gelap dan macam-macam bau manusia tercampur jadi satu. Aku melangkah dan menghasilkan bunyi berdecit berulang kali sehingga beberapa anak meneriakiku. Aku putuskan untuk merangkak. Mereka yang kakinya tersentuh olehku kemudian menendangku. Telapak kaki mereka yang dingin dan berbau busuk menghantam wajahku dan bagian-bagian tubuhku yang lain. Dalam kegelapan aku mencapai sudut sempit yang diapit dua kelambu. Aku putuskan tidur disitu. Tidak beberapa lama seluruh tubuhku dipenuhi gigitan nyamuk dan aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Aku mulai menangis dan isakanku menggema kecil. Terdengar macam-macam suara geraman, aku tidak tahu anak seumuranku bisa menghasilkan suara macam itu. Aku tetap terisak pelan sambil kedinginan.

Tiba-tiba seseorang menyibak kelambu dari kain berwarna gelap disebelah kananku. Dengan sigap ia menarik tanganku paksa dan mengajakku keluar ruangan lewat pintu belakang. Area pintu belakang hanya berupa ruang terbuka diapit bangunan gudang lainnya dan beberapa meter kedepan terdapat sebuah bangunan kecil yang kuduga adalah sebuah toilet. Area terbuka itu tampak terang tersiram cahaya bulan malam itu. Ia mengajakku berjongkok agak jauh dari pintu dan aku berjongkok didepannya.

“Kalau kau menangis seperti tadi kau akan dipukuli besok” ujarnya dengan tenang, seakan hal tersebut sudah sering terjadi. Dibawah sinar bulan wajahnya setengah tampak, menampilkan hidung yang mancung, kulit cokelat matang dan warna mata yang keruh. Ia menatapku tanpa ekspresi dan suaranya jernih dan tegas. Kemudian tanpa ragu ia membekap mulutku “..tutup mulutmu kalau ingin menangis, biar suaranya teredam” Aku hanya mengangguk, tidak tahu harus jawab apa.

“Ayo kembali. Kamu boleh tidur denganku dan teman-temanku” Ia menarik tanganku lagi, kali ini lebih halus. Seraya kami berjalan menuju pintu, aku memperhatikan punggungnya yang terlihat lemah. Tubuhnya dibalut kaus dengan noda belang dan corengan tanah dimana-mana. Bagian leher kausnya sudah longgar dan warnanya pudar.

Sesaat setelah aku dikeluarkan paksa dari bagasi mobil aku tidak berhenti berteriak sehingga pipiku yang sudah bengkak ditonjok lagi. Kumpulan pria-pria itu juga mengancam akan memotong rambutku yang panjang kalau aku tidak berhenti berteriak. Aku tetap berteriak dan aku melihat rambut panjangku sudah tergeletak di tanah. Mereka memotongnya tanpa ragu. Aku sekarang seperti anak laki-laki. Dipotong rambut tidak membuatku berhenti, rasa sakit di perut karena ditendang yang akhirnya membuatku bungkam.

Didalam ruangan ia menarik kelambu dan mempersilahkan aku masuk kedalam area di dalam kelambunya yang dapat menampung beberapa orang dan aku terkejut menemui dua anak laki-laki lainnya sedang tertidur pulas. Terdapat satu area kosong yang tersisa cukup untuk satu orang, seakan aku memang sudah ditakdirkan untuk tidur disana. Aku merapat pada tubuh seseorang diantara mereka dan mulai merasa nyaman. Aku tak ingat kapan aku tertidur, tapi itu yang terjadi pada malam pertama aku disana.

….

               “Aku pikir kamu anak laki-laki” ucap suara yang sama dengan suara yang familiar dari malam kemarin. Ketika itu aku baru bangun dan didepanku tedapat tiga anak laki-laki dengan wajah berbeda, dan warna kulit yang kontras perbedaannya sedang memandangku heran. Aku hanya mengenal salah satu dari mereka, anak laki-laki yang mengenakan kaus oblong lusuh dan kulit cokelat tua. Ia berada di antara mereka.

Aku meraba rambutku dan yang ada disana memang rambut pendek nyaris cepak.

“Siapa dia, Lang?” seru seorang anak laki-laki yang warna kulitnya kekuningan dan mata yang sipit.

“Entahlah. Baru datang kemarin malam.”

“Siapa namamu?”

“Aku tidak tahu”

“Wah, yang ini juga amnesia”

“Tidak aneh. Aku juga begitu”

Mereka kemudian memperkenalkan diri. Anak laki-laki dengan kulit cokelat tua dan hidung mancung bernama Langit dan ia dipilih menjadi ketua dari perkumpulan mereka bertiga. Jadi nama yang dipilih pun harus sesuatu yang paling tinggi dan megah.

Anak laki-laki dengan kulit kuning dan mata sipit bernama Senja. Karena Senja menyilaukan dan dapat membuat mata kita sipit apabila memandanginya terlalu lama, ucapnya. Padahal matahari senja bersinar berwarna jingga keemasan dan tidak menyilaukan mata, namun aku memutuskan untuk tidak berkomentar.

Anak laki-laki dengan warna kulit kaukasian dan wajah blasteran bernama Laut. Karena sifatnya paling dingin seperti air laut, ucap Langit sembari dibalas decakan pelan oleh Laut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s