draft 5-

  1.  Hujan dan Hutan

 

Ketika seseorang sepertiku menangis, menghilang adalah solusi terbaik. Menghilang yang kumaksud berbicara mengenai tubuhku yang akan diurai oleh bakteri saprofit dan jamur-jamur yang menumpang tumbuh memenuhi kulitku, menjadikan aku inang sumber kehidupan mereka. Seperti apa tampakku nanti? Ya. Aku ingin menghilang (mati).

…….

Di penghujung hari di dalam ruangan itu selalu tersisa dua siluet manusia duduk saling berjauhan namun gerak-geriknya cukup selaras. Seakan sinkron satu sama lain. Si perempuan yang ingin mati duduk membelakangi cahaya sehingga ia bisa melihat bayangannya yang tampak besar karena rambutnya yang panjang dan mengembang berantakan. Ia menggenggam sebuah buku tipis bergambar jenis spesies  bunga-bunga tropis, ia membolak-balik halamannya yang sudah rapuh, namun tatapannya kosong. Orang-orang yang melihatnya akan mengira kalau ia setengah tertidur dan tidak benar-benar membaca buku yang malang itu. Tubuhnya mematung, dengan hanya tangannya yang bergerak membalik halaman buku hingga ruangan itu akan dikunci ketika nampak warna hitam mendominasi langit.

 

Si lelaki muda, tingginya mungkin hanya setinggi telinga kanan si perempuan. Ya, telinga kanan, sebab telinga kirinya lebih rendah 0,5 mm dan tidak ada seorang pun yang menyadarinya. Si lelaki muda yang ingin mati duduk menghadap cahaya sebelum cahaya itu benar-benar lenyap. Ia menikmati aliran cahayanya yang melewati kepalanya hingga ke ujung kusen jendela, mencoba menghargai kehangatan yang sudah lebih dulu lenyap ditelan dinginnya kaca. Di tangan lelaki muda itu terbuka sebuah buku tebal, tanpa gambar, Lain hal dengan buku si perempuan. Lelaki muda itu pun melakukan gerakan yang sama dan oleh anggota tubuh yang sama. Jemarinya yang panjang dan lentik menyibak halaman demi halaman dengan perlahan. Terkadang dipandanginya dulu jemarinya yang tumbuh panjang, namun tubuhnya tidak kunjung memperlihatkan pertumbuhan yang berarti. Konon jemari panjang dimiliki orang bertubuh tinggi, semoga saja itu bukan mitos belaka.

 

Si perempuan terkadang menoleh untuk memeriksa sekelilingnya, terkadang ia tidak sadar di luar sudah gelap. Dan pandangannya selalu menemukan lelaki muda yang duduk jauh darinya. Setiap hari, dalam kurun waktu tiga bulan tahun ajaran yang serasa seperti satu abad yang tidak pernah selesai. Lelaki muda itu kurus, dan seragam yang dipakainya sudah luntur. Rambutnya kecokelatan ketika diterpa cahaya senja dan si perempuan tidak pernah melewatkan momen itu setiap harinya. Memandang wajah si lelaki muda tersiram cahaya jingga keemasan. Ketika pertama kali memperhatikan wajah lelaki itu dengan seksama, wajahnya tampak aneh. Cekungan matanya dalam dan garis-garis kantong mata yang menghitam menghiasi bagian bawah matanya yang agak sipit. Bola matanya bulat kecil, menyisakan sklera yang memiliki banyak ruang dalam matanya. Dan alisnya tebal seperti orang Timur Tengah. Perpaduan yang aneh antara Asia Timur dan Tengah. Namun setelah tiga bulan berlalu, penilaian mengenai karakteristik fisik itu bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Ketika mengambil buku baru, si perempuan menyempatkan diri memperhatikan lelaki muda itu dengan lebih dekat. Ia menghafal kebiasaan gerak-gerik bibir lelaki muda itu ketika membaca, ia penasaran bagaimana suara lelaki muda itu. Tangannya yang sering mengurut dahinya seakan otaknya sedang mencerna sesuatu yang berat, buku-buku seperti apa yang dibacanya, dan imajinasi si perempuan mengenai lelaki muda itu. Terkadang imajinasinya hampir keluar batas usianya.

Dalam kurun waktu tiga bulan rambutnya yang sebelumnya tidak menyentuh leher kini sudah mencium kerah baju seragamnya, Semakin hari semakin panjang melebihi kerah, hingga suatu hari ia datang dengan potongan rambut yang berantakan namun pendek, kembali memperlihatkan lehernya yang telanjang. Si perempuan yakin rambutnya dipotong secara paksa oleh seseorang, tersangka utama yaitu para pahlawan tanpa tanda jasa namun terkadang tanpa toleransi. Dalam kurun waktu tiga bulan, seragamnya semakin lusuh, dari putih menjadi abu-abu muda, dari abu-abu muda menjadi abu-abu.

Tetapi, diluar perhatian akan rambutnya yang bak sangkar burung dan seragamnya yang seperti kain pel, gerakan yang dihasilkan oleh lelaki muda itu sungguh indah.

 

Pada bulan keempat, si perempuan menyadari kecantikan si lelaki muda itu. Seperti seorang androgini.

Lelaki muda itu bahkan lebih cantik dari dirinya, pikir perempuan itu.

Kalau ia mengenakan wig panjang dan wajahnya disapu make up tipis…. ah, si perempuan segera mengenyahkan pikiran itu. Lelaki muda itu tidak akan senang dengan imajinasinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s