draft 4-

Momen Ketika Aku (Gagal) Mati

 

Kilatan cahaya tak berhenti menghujani tubuhku.

Ah, aku sudah bosan hidup seperti ini.

Yang aku nikmati ketika berdiri disini hanyalah memperhatikan tiap pasang mata yang sedang memandangku sebelum kilauan cahaya itu membuatku tak bisa melihat apa-apa kecuali bundaran-bundaran berwarna putih. Mata-mata tersebut memperlihatkan makna pandangan mereka yang sesungguhnya. Mata-mata penuh harapan atas jumlah uang yang akan aku hasilkan. Mata-mata penuh nafsu untuk menindihku diatas ranjang. Mata-mata penuh rasa dengki seolah-olah mengutukku dalam diam. Selama beberapa menit yang silau itu aku berusaha mengingat semuanya, siapa saja yang benci padaku, siapa saja yang ingin meniduriku, siapa saja yang ingin memanfaatkanku, karena setelah semua ini berakhir mereka akan menyambutku dengan tatapan yang sudah dilapisi kebohongan, tidak dapat dibedakan lagi. Mereka saja yang bodoh kalau berpikir aku tak tahu apa-apa. Seakan-akan aku hanya terfokus untuk menghasilkan foto fenomenal untuk cover majalah terkenal yang bahkan sudah tak pernah kubaca. Kopian majalah yang kudapat kujadikan tumpukan berdebu di sudut apartemenku yang tak pernah terjamah. Terkadang aku merobek satu atau dua halaman untuk membuang pembalut. Mereka tak menyadari bahwa fokusku adalah mata mereka satu per satu.

Kenapa ya? Setidaknya aku ingin melihat sepasang mata diantara mereka yang berbicara jujur padaku. Yang benar-benar menganggapku indah tanpa peduli hal-hal lain, yang benar-benar meyakinkanku kalau ini adalah jalanku.

Yang tidak akan berubah ketika memandangku berdiri disini dengan ketika memandangku saat berbicara dengannya.

Tapi selama tiga tahun ini, tidak pernah ada sama sekali. Aku pernah mengatakan hal tersebut pada salah satu teman seprofesi karena kami cukup dekat setelah melakukan beberapa pemotretan bersama. Dan salahnya, kupikir ia akan mengerti. Ia mendengarkanku dan bertanya “Siapa yang memandangimu dengan tatapan nafsu?”. Rupanya yang membuatnya tertarik hanya persoalan lelaki saja. Ia tidak menggubris cerita panjang lebarku mengenai orang-orang yang berusaha memanfaatkanku dan hal-hal lain yang menurutku jauh lebih menarik. Kuberi tahu ia siapa orang-orangnya dan tak lama kemudian beredar kabar bahwa aku terlalu sok dan menganggap seluruh lelaki ingin tidur denganku. Aku tahu itu salahku sendiri karena bercerita hal yang tidak bisa dicerna oleh seseorang dengan pikiran sempit dan goblok seperti dia.

Hari ini akan menjadi hari terakhir.

Aku sudah janji akan menutupnya dengan indah.

Aku akan jatuh dari ketenaran ini dengan cantik.

Kemudian ia datang disaat kesadaranku mulai samar. Aku belum pernah melihat sosoknya di tempat ini sebelumnya. Mungkin seorang staff? Fotografer magang? Petugas kebersihan? Matanya memandangku begitu dalam. Ekspresinya terkesima melihatku. Seorang penggemar? Kami berpandangan dalam sekian waktu yang singkat, sebelum kilatan cahaya kembali menyerang, namun matanya memandangiku seakan-akan aku seorang dewi. Aku merasa indah karenanya. Sempurna. Semuanya sempurna. Aku akan meninggal dengan satu orang yang benar-benar memandang diriku.

Bab 1

Pada saat ia membuka mata dan mendengar suara samar orang-orang bernada prihatin, rasanya sungguh-sungguh kesal. Ia tahu kalau ia gagal mati karena sudah pasti kini ia masih hidup dan terbangun di rumah sakit. Bunuh diri di tempat ramai ternyata memiliki persentase gagal yang sangat tinggi sekalipun ia sudah menenggak berpuluh-puluh butir pil tidur. Ia menyesal tak melakukan nya ketika sendirian. Kenapa ya. ‘Apa sebenarnya aku takut mati?’

“Yana”

Yana mengenal suara itu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s