draft 3-

“Hei, alarm nya terus berbunyi”

“Siapa yang lupa mematikannya? Hari ini kan hari libur”

“…..”

“Hei, matikan dong.”

“…..”

“Kau lebih dekat”

Butuh beberapa detik sebelum Sandy bangkit dari tempat tidurnya dan menjangkau handphone dengan tangannya yang kerempeng. Memang betul jaraknya jauh lebih dekat dengan handphone yang letaknya hanya di serong bantalnya. Handphone itu terus bergetar dan berbunyi lagu nyaring penuh semangat. Mereka berdua tidak akan bisa bangun tanpa lagu seperti ini sebagai alarm.

 

Ia melihat layar handphone sejenak, memastikan kalau hari itu benar libur. Minggu, masih jam 6 pagi. Ada sedikit kepuasan dalam hatinya. Rasanya menyenangkan terbangun terlalu pagi dan bisa tidur kembali. Ia mematikan handphone itu dan menaruhnya jauh-jauh.

Sandy merebahkan dirinya kembali dan menarik selimutnya hingga ke hidung sebelum akhirnya memandang perempuan di sebelahnya yang sedang tidur menghadap ke arahnya. Naomi yang tertidur dengan mulut setengah terbuka membuatnya bergairah. Sandy meraba wajah Naomi pelan dan mengelusnya. Perempuan itu sedikit membuka mata.

“sudah mati?” alarmnya.

“iya” sudah.

Sandy mendekatkan tubuhnya dan mencium Naomi yang setengah sadar. Diciumnya berulang kali bibir Naomi namun dengan cepat berpindah-pindah area. Naomi hanya bergeming sambil tubuhnya disentuh dan dicium. Sudah terbiasa dengan kebiasaan Sandy pada waktu-waktu yang tidak tepat. Naomi mulai terjaga setelah merasa Sandy melucuti celana piyamanya dan kemudian celana dalamnya dan tak lama ia menindihnya berulang kali.

Puncaknya Sandy tertidur di atasnya.

……

Sudah hampir tiga tahun Naomi tinggal bersama Sandy pada kamar apartemen minimalis yang terasa cukup untuk mereka berdua. Kamar itu memiliki ruang tamu, dapur dan kamar tidur yang menjadi satu tanpa sekat. Hanya kamar mandi yang dipisahkan dinding. Perabotan mereka pun seadanya saja. Satu kasur single-bed yang dipakai berdua, dua meja untuk tempat kerja mereka berdua, sofa di samping jendela, rak tv kecil, dan rak-rak buku yang diisi komik-komik koleksi Sandy dan novel-novel koleksi Naomi. Yang menonjol dari kamar kecil mereka adalah jumlah pajangan yang tak terhitung.

Naomi dan Sandy sama-sama suka memungut barang yang mereka sukai dalam bentuk apapun. Asalkan suka, tak peduli barang itu sampah. Tempat minum plastik bergambar, brosur-brosur restoran, bebatuan, bunga kering, bungkus rokok, hingga benda-benda yang tidak akan terpikir untuk dikoleksi. Benda yang sifatnya berbentuk kertas akan ditempel di dinding, bunga kering ikut menghiasi dinding dengan digantung terbalik. Benda berbentuk lain akan diletakkan dimana saja yang mereka inginkan. Batu berwarna merah marun diletakkan di rak buku, tempat minum plastik dijadikan tempat koin, dan lain-lain. Mereka tak pernah membersihkan seluruh pajangan tersebut sehingga sangat berdebu.

Naomi bekerja sebagai office lady bagian input data. Pekerjaannya sangat membosankan ia berpikir bisa mati karenanya. Seperti beribu orang dewasa di luar sana, Naomi gagal mewujudkan mimpinya menjadi editor untuk majalah traveler. Persaingan yang terlalu ketat dan skill yang pas-pasan membuatnya harus mengubur mimpinya itu.

Sedangkan Sandy seorang freeter yang terus berganti tempat kerja part time. Mulai dari bekerja di restoran, bar, toko-toko, warnet, percetakan, hampir semua pernah ia alami. Kali ini di toko barang antik pada pagi hari hingga sore hari. Sudah cukup lama ia bekerja di tempat itu, artinya ia menyukai tempatnya bekerja. Sandy cenderung memiliki kelainan kleptomania yang menyebabkan ia sering membawa pulang barang-barang kecil yang tak disadari dari tempat kerjanya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s