draft 1

4 Kotak Kaca

Sensasi dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, membangunkannya dari ketidaksadaran yang sudah entah berapa lama. Ia mencoba sekuat tenaga membuka kelopak matanya namun hanya berhasil terbuka setengah. Bau yang tercium menyengat seperti obat antiseptic masih membekas disekitar hidungnya menyebabkan ia terhuyung-huyung. Ia tertidur dalam posisi yang ganjil sehingga otot-ototnya kaku dan menimbulkan rasa sakit ketika digerakkan. Dengan susah payah ia mencoba bangun dari lantai dingin tempat ia berbaring.

Hal pertama yang ditangkapnya adalah tiga anak laki-laki lain yang sedang memandanginya dari jarak dekat. Ia terkejut dan memekik pelan, tiga anak laki-laki itu juga terkejut dan memperbesar jarak diantara mereka. Salah satunya menjauh tak peduli.  Kemudian ia mulai menengok ke segala arah. Segalanya terlihat asing. Pikiran anak berumur enam tahunnya hanya bisa menyimpulkan ia berada di sebuah ruangan berwarna abu-abu. Karena ia masih kecil sulit untuk memperhatikan setiap detail yang ada pada ruangan tersebut.

Dalam ruangan itu ada empat kotak kaca besar dan ia berada didalam salah satunya. Sedari tadi ternyata ia berbaring dalam sebuah kotak kaca. Satu sisi dari kotak kaca itu seakan-akan sengaja dirancang untuk dihilangkan sehingga mereka bisa keluar masuk dari kotak itu. Ada empat toilet berwarna putih dengan tipe sejenis di salah satu sisi ruangan dengan satu wastafel berwarna putih keruh tanpa kaca. Ruangan itu cukup terang dari skylight kaca yang berada di langit-langit. Di sisi lain ruangan terdapat pintu berbahan metal yang terkesan tebal dan di bagian dasar pintu itu terdapat celah yang juga tertutup oleh lempengan metal. Sudah, pikirnya. Tidak ada lagi yang bisa dilihat dalam ruangan abu-abu itu. Yang bernafas dan bergerak hanya mereka berempat. Tiga anak laki-laki dan ia, anak perempuan, dan mereka semua hanya berbalut pakaian dalam berwarna putih. Anak laki-laki hanya memakai celana dalam berwarna putih sedangkan anak perempuan memakai celana dalam dan kaus dalam berwarna putih.

Ia, begitu menyadari dirinya nyaris telanjang kemudian duduk sambil menutupi tubuh bagian dadanya.

“Siapa namamu?” ucap salah satu anak laki-laki bermata sipit dan bergigi tonggos. Tubuhnya kurus sehingga tulang rusuknya tampak menonjol. Si anak perempuan tidak bisa berhenti memandang tulang rusuk anak laki-laki itu yang bergerak naik turun seirama dengan nafasnya.  Ketika memandangi anak perempuan itu matanya semakin menyipit dan alisnya mengernyit seperti baru pernah melihat anak perempuan.

“Ini dimana?” anak perempuan itu balik bertanya sambil mendesak tubuhnya ke dalam kotak kaca, ia sudah berada di ujung terdalamnya dan punggungnya yang hanya berbalut kaus dalam tipis menempel pada dinding kotak kaca yang dingin.

“Kami juga tak tahu.” Si anak sipit menggeleng.

“Mengapa aku disini?”

“Mungkin kita diculik” ucap anak laki-laki yang lain. Suaranya terdengar berat dan menenangkan, tidak terdengar rasa takut kalau ia memang benar diculik. Si anak perempuan memandangi anak laki-laki itu. Berbeda dari si anak sipit, mata anak laki-laki ini besar dan kulitnya cokelat matang.

Anak perempuan itu mulai menangis di dalam kotak kaca. Ia kemudian berusaha sekuat tenaga mengingat apa yang terjadi sebelum ia berada di ruangan aneh ini, namun ia tidak dapat mengingat apa-apa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s