ketika saya mengingat momen tertentu secara tiba-tiba saya jadi ingin menulis.

Saya pernah berkata kepada ayah saya alangkah enaknya hidup ibu saya. Lulus kuliah langsung menikah, tidak perlu memikirkan akan kerja apa atau bagaimana menafkahi diri sendiri seperti saya. Jujur akhir-akhir ini saya banyak mengalami perasaan yang begitu abu-abu. Suram ketika memikirkan akan jadi apa di kemudian hari. Hidup saya ini seperti warna abu-abu, tidak menjadi putih, tidak juga menjadi hitam.

Ayah saya menjawab, “mungkin hal tersebut terlihat aman, menikah dan tidak perlu bekerja, tapi yang dipikiran ibumu pasti berbeda. Mungkin menurut dia, hal itu malah merupakan kesedihan, penyesalan”. dan saya terdiam.

Kemudian malam hari menjelang waktu tidur di keesokan harinya. Saya sedang menyisir rambut sambil bercermin dan ibu saya sudah dibalut selimut di atas tempat tidurnya. Tiba-tiba tanpa ada apapun ia berkata “andai saja hidup bisa diputar balik ya. Saya mau kerja di Jakarta.”

 

Saya betul-betul manusia yang tidak pernah bersyukur.

Walaupun rumput tetangga selalu lebih hijau, tapi mendengar ibu saya berkata demikian rasanya hati saya sakit. Betul-betul sakit. Bukan karena saya sedih karena dia menginginkan untuk tidak menikah dan tidak melahirkan melainkan untuk bekerja, tapi rasanya saya merenggut masa mudanya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s