perubahan yang berubah-ubah

Dalam sebuah perjalanan pulang, saya terlibat secara tidak langsung (karena saya cuma mendengarkan) dengan percakapan ibu saya, dan dua orang lainnya yang lahir pada selang waktu tahun 1950-1975. Ibu saya sendiri terhitung masih muda sebab saat beliau umur 21 tahun seperti saya saat ini, beliau sudah melahirkan saya.

Intinya, Mereka bercerita bagaimana mereka rindu akan segala hal di masa mereka kecil. Yang anehnya mereka semua masih ingat betul apa yang mereka alami, apa yang mereka rasakan, tontonan mereka, permainan mereka, semuanya bisa diceritakan dengan lancar. Satu per satu dari mereka saling adu ingatan dengan menyebutkan hal-hal di masa lalu. Stasiun televisi hanya ada satu pada jaman itu, TVRI, dan mereka menyebutkan macam-macam acara televisi yang menarik dan masih hafal betul. Acara televisi di jaman dulu cuma beberapa jam saja, disiarkan dari siang sampai malam, kalau sudah habis seluruh acara maka televisinya hanya akan menampilkan layar semut. Dahulu yang memiliki tv berwarna hanya orang kaya saja, tv itu dilengkapi dengan kaki-kaki yang menopangnya dan papan kayu jati kokoh yang bisa dibuka-tutup ketika hendak menonton tv kemudian ditutup apabila tidak dipakai. Teman ibu saya bercerita ia dan teman-temannya harus membayar hanya untuk menonton tv berwarna di rumah orang kaya. Acara televisi di hari minggu paling disukai satu keluarga, ibu saya berkata kalau nonton tv di masa lalu adalah saat-saat berkumpul dengan keluarga di sore hari atau di hari libur. Sungguh ironis perbedaannya dengan saat ini, dimana di rumah saya sendiri tiap malam kami berada di ruangan yang berbeda menonton acara tv yang berbeda. Ibu saya nonton sinetron turki di kamar, dan saya nonton kartun di ruang tamu. Begitu seterusnya.

Jaman dulu bioskop tidak seperti sekarang, dan saya tahu kalimat ini tidak harus saya katakan karena sudah jelas PASTI berbeda. Dulu di kota saya hanya ada dua bioskop yang terkenal (bukan karena bagus, tapi karena hanya ada 2 bioskop itu saja). Supir saya yang adalah pria kelahiran tahun 50an berkata ia sampai menangis menonton film ‘Ratapan Anak Tiri’ dan film itu satu-satunya yang bisa membuat ia menangis. Ibu saya hafal betul pemain-pemain film pada jaman itu. Mereka terus mengobrol, mengasah ingatan, saling menyebut aktor dan artis yang berkesan menurut mereka. Ketika dibandingkan dengan masa kini mereka mengeluh karena menurut mereka artis dan aktor masa kini kurang menjiwai peran.

Tiket bioskop pada jaman itu hanyalah tiket bioskop, bukan sebagai tanda dimana kita akan duduk, sebab di dalamnya bebas duduk dimana saja, kalau terlambat maka kebagian duduk di kursi paling depan dan sangat tidak nyaman. Ruangan sudah gelap sehingga orang-orang masuk harus menggunakan senter milik masing-masing, atau dipinjami saya tidak tahu pasti. Dahulu ruangan bioskop tidak dibuat berundak semakin tinggi, semua sama rata sehingga pandangan ibu saya harus terhalang oleh orang-orang yang duduk didepannya. Maka ibu saya kadang duduk di pegangan kursi, berusaha sebisa mungkin menikmati film yang sedang diputar. Kursi bioskop hanya berupa kursi-kursi kayu yang tidak mulus, memperlihatkan kualitas furnitur yang dibuat asal-asalan tanpa finishing amplas yang baik. Kulit kayu mencuat dimana-mana dan kutu-kutu bersarang didalamnya, sehingga sehabis menonton, kulit kaki dan paha yang berinteraksi langsung dengan kayu tersebut akan gatal-gatal dan memerah.

Untuk menonton saja rasanya mereka harus berjuang melawan ketidaknyamanan seperti itu. Namun anehnya, anehnya….sebagaimanapun menyusahkannya jaman itu, ibu saya tetap akan memilih jaman ia kecil. Ibu saya terlahir sebagai anggota generasi X (1960 awal – 1970 pertengahan) dimana terjadi perubahan besar-besaran dari segi teknologi dan ilmu pengetahuan. Generasinya (masa kanak-kanaknya) menjadi percobaan-percobaan teknologi baru yang muncul di dunia, oleh sebabnya saya ingin turut bergembira untuk ayah dan ibu saya karena mereka berdua merasakan perubahan signifikan (perubahan besar) di dunia. Mereka merasakan bagaimana kota yang sepi dan dikelilingi sawah menjadi kota industri panas yang padat. Mereka merasakan berbagai jenis telepon, lampu, televisi, bioskop, kamar mandi, permainan, sistem pendidikan, dan hal-hal lain yang akan terlalu panjang bila saya jabarkan.

Mereka merasakan perubahan yang tak mungkin bisa dilupakan.

Sedangkan saya butuh waktu untuk mengingat apa yang terjadi pada masa kecil saya. Acara televisi yang bisa saya kenang pun terkenang sebagai sinetron alay dengan artis dan aktor yang buruk dalam berakting yang saya sendiri bingung mengapa saya menonton itu waktu dulu. Tapi ibu saya tidak. Seluruh acara televisi dan film yang ia tonton terkenang sebagai sesuatu yang menyenangkan dan begitu menghibur. Dan saya cukup percaya dengan selera ibu saya.

Dan kini saya dan teman-teman sekalian merupakan generasi Y sudah terbiasa dengan perubahan. Kota tempat saya menghabiskan masa kecil sudah padat ketika saya lahir, dan kian memadat. Semua teknologi yang saya gunakan hanya berubah bentuk dan kualitas. Rasanya perubahan yang dialami generasi saya yaitu perubahan monoton yang tujuannya hanya untuk memperbaiki saja, bukan menciptakan yang baru. Mungkin otak generasi Y malah lebih sederhana dibandingkan generasi W dan X yang hobi menciptakan dan merubah. Itulah sebabnya mengapa saya lebih tertarik pada hal-hal di masa lalu. Saya merasa lahir di era yang salah dan bahagianya saya apabila saya bisa merasakan hidup pada tahun 70-80an.

 

Begitulah post kali ini.

Selanjutnya saya ingin menuliskan bagaimana hidup ibu saya di masa lalu. Saya berpikir apabila saya berhasil jadi animator, saya harus membuat film animasi mengenai tahun 80an di Indonesia berdasarkan cerita-cerita dari ibu saya.

Semoga saja

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s