tidak selesai

Aku pernah menemukan rumah, rumahku bersembunyi, berbaur menyatu bersama suaranya, di antara hembusan nafas pelannya, di antara jari-jari tangannya yang begitu intim di atas kulitku, di balik wajahnya yang tersenyum dan jarak yang lambat laun mengecil di antara kami. Aku menemukannya di dalam bola matanya yang memandangku lembut diterangi siluet lampu balkon yang menyala. Ia, pernah menjadi rumahku. Ia yang mengenaliku pada rasa yang akhirnya membawanya untuk mengakhiri, membawa kami ke dalam tujuan terakhir, perpisahan. Suatu rasa yang disebut cinta itu sebenarnya apa? Cinta itu candu, sebuah elegi yang mencekikmu, membuatmu ingin muntah tetapi-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s