new draft.

PROLOG

 

“Aku ingin membawamu pergi.”

Ia, satu helai daun yang tertinggal di dahan pada musim gugur.

Rasanya seperti sedang dilamar.

Indera yang mendadak peka oleh suara angin dan kerikil yang berbicara. Rumput yang mendesis lemah, jalan bebatuan yang sedang dipijak menunggu kaki-kaki kami bergerak.

Ia ringan seperti bulu. Tanpa beban, tanpa apapun, hanya berbalut kemeja warna langit yang pernah kupuji. Aku selalu suka warna langit, entah disaat subuh, petang, senja, walaupun suatu hari langit akan tampak hitam atau putih saja, aku akan tetap menyukainya.

Ia seperti langit. Aku tidak bisa berhenti memujanya.

Aku selalu berkata kepadanya, kalau kau memakai kemeja kau akan tampak berbeda.

Apakah tampak lebih baik?

Ya.

Kemejanya dibalut dengan jaket hitam kumal miliknya. Tubuhku dan tubuhnya sering dibalut bersama oleh jaket itu. Jaket kumal namun wanginya seperti madu dan bunga-bunga krisan. Perpaduan yang aneh dari jaket hitam menyeramkan itu dengan hobinya menanam bunga krisan.

Bunga krisan itu seperti kamu, katanya.

Mengapa?

Karena….

Ketika perlahan-lahan layar berganti, dan kali ini dihadapanku ia melayang, satu helai daun tertiup angin. Aku ingin berpikir kalau ia melayang dengan indah, karena ia bisa memandang langit, karena kedua tangannya terentang bebas seperti memiliki sepasang sayap. Kepalanya menengadah ke udara, namun aku tersadar kalau tubuhnya seperti boneka kayu yang hampir patah. Tubuhku juga terbang, tetapi aku terbang rendah, disebelahku ia terpental, aksi dan reaksi pada badan metal dengan kecepatan bak kuda. Aku mencoba meraihnya namun ia terlalu jauh. Semuanya terlihat melambat dan pandanganku tidak bisa lepas dari gerakan tubuhnya yang semakin aneh.

Aku tahu.

Aku tidak ingin menangis namun pandanganku semakin kabur. Pada waktu yang lambat itu, air mataku malah melaju dengan derasnya.  

Kosong.

Aku terdampar lebih dahulu, dan sepersekian detik kemudian tubuhnya baru mencium bumi. Sejauh apapun tanganku menggapai, yang kugapai hanyalah angin kosong. Ia terlalu jauh, badanku mulai mati rasa, dan pandanganku mulai menghitam.

Satu helai daun gugur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s