(cerita yang terpikir di pelajaran tipologi. 18 September 2015)

Kanvas

Part 1

Sepanjang ingatanku menjelajahi waktu, memasuki seluk beluk masa kecil yang tidak begitu membahagiakan, sejak tinggi badanku hanya setengah dari tinggi badanku saat ini, tubuhku selalu menjadi kanvas.

Aksi dan reaksi terhadap jarum dan tinta hitam yang digoreskan di permukaan kulitku. Tato, ya. Tidak akan bisa hilang. Hampir setiap bulan akan ada goresan baru di kulitku. Bagaimana pun aku ini lebih murah ketimbang kanvas yang berharga puluhan ribu yang dipakai seseorang untuk melukis. Sedangkan tak perlu uang sepeserpun untuk mereka melukisi tubuhku. Dilempar-lempar dari kakakku, lalu temannya, lalu kakakku lagi. Mereka berdua sumber baju-bajuku berasal.

Sejak kelas menengah aku sudah sering pakai jaket. Tentunya mereka yang belikan. Kalau aku tidak pakai jaket, aku pakai baju lengan panjang, apapun kupakai asal lenganku tertutup.

Di SMA, kakiku masih bersih dan suatu hari kakakku mendatangiku, ingin menato bagian paha.

“Kak, cuma kakiku bagian yang masih bersih dari tato. Kalau sudah satu, pasti kakak bakal tambah lagi” dan benar saja. Dalam 3 tahun di SMA kakiku sudah penuh walaupun sisa betis kebawah digambar ketika aku lulus.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s