Kebuntuan

Ketika akhirnya kau bertemu dengan sebuah kebuntuan. Kebuntuan yang paling menakutkan sebab selama ini kau bergantung padanya. Selama ini kau berpikir kau bisa mengubah kenyataan menjadi mimpi indah melalui sesuatu itu. Ya.

Kau mencapai kebuntuan kata.
Padahal selama ini kau gunakan kata-kata itu sebagai mesin yang mempercantik kenyataan, memberinya elemen-elemen estetis yang tak bisa digantikan oleh benda manapun, yang bisa menandinginya hanya warna dan rupa, namun kau terlalu malas untuk itu.

Jadi kau bergantung pada kata-kata yang kaukumpulkan menjadi prosa-prosa yang tak pernah selesai, gantung, buntu.

Apakah kebuntuan kata ini ada sangkut pautnya dengan selesainya sebuah kisah, tertutupnya sebuah buku, keringnya derai air mata yang lantas selalu mengalir di pipimu di hari kemarin.
Seakan perasaan begitu penting, sehingga kata-kata itu mencintainya. Kata baru tidak akan keluar hingga ia berhasil jatuh cinta pada Perasaan baru.

Aku disini, mengalami kebuntuan kata.
Dan juga kebuntuan rupa.
Perasaan terburuk yang pernah kurasakan.
Mungkin kini aku tahu yang terburuk, ketika berderet kata terus meluncur, memenuhi tiap sudut pikiranmu, menggumamkan suara berbisik dari mulutmu namun tak mau keluar ke dalam lembar putih di sebuah layar 2 dimensi. 

“Kata tak mau keluar sebelum Perasaan muncul.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s