Aside

Sore itu…

Deburan ombak dengan tenang menyentuh mulut pantai ketika matahari mulai terbelah dua sejauh mata memandang samudera. Air laut mulai pasang, mata kakinya sudah terendam air.

Ah, warna jingga yang lembut ini selalu berhasil membuatku tenang, tetapi kali ini sepertinya tidak.

Di tengah keributan gelak tawa dan teriakan mereka yang bersenang-senang, perempuan itu hanya memandang lautan dengan tatapan putus asa dan setengah terhanyut.

“Aku tak menyangka kau akan memakai baju renang terbuka begitu” seru seorang laki-laki yang tiba-tiba berada di sebelahnya. Dadanya telanjang, dan sebuah kamera bertali tergantung di lehernya. Badannya masih kering.

Si perempuan diam-diam kaget tetapi ia berhasil menutupinya dengan sempurna.

“Mereka memaksaku”, serunya dengan tatapan menyebalkan menatap perempuan-perempuan lain yang sedang tertawa.

“Aku bisa menebaknya” ujarnya tersenyum.

Kalau begitu mengapa kau tanyakan?

Si perempuan tidak membalas apapun, hanya kembali menatap lautan sambil melipat tangan.

KLIK

Si perempuan mendelik marah. Si laki-laki menyeringai hingga matanya tepat segaris.

“Hei! Kau memotretku! Sialan!” seru si perempuan marah.

“Ya. Karena kamu disitu!”

“Apa-apaan…….”

“Coba tanganmu diturunkan. Tanganmu yang dilipat itu menghalangi dadamu”

“HAH?!”

Laki-laki itu tertawa dan menurunkan kameranya. Ada suatu pesona asing dari dalam diri laki-laki itu yang semakin terpancar ketika ia tertawa. Si perempuan membuang muka, padahal menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ia diam-diam takut pesona itu membuatnya memiliki ketertarikan seksual.

“Jadi, maukah kau menemaniku berjalan di pantai malam ini?”

Malam ini?

“Bukankah kau diajak mereka pergi?”

“Ya. Tapi aku lebih suka menghabiskan waktu di pantai. Dan kamu juga pasti tidak ikut, kan?”

Kau menebak betul lagi.

“Begitu. Tidak, terimakasih”

“Kau menolak?”

“Ya”

“Apa ada yang salah denganku?”

Ya. Tentu saja. Kamu lelaki dan kaummu itu yang membawa air mata untuk kami. 

“Bukannya aku ikut campur, tapi apa kamu memang menolak berhubungan dengan lelaki?”

“………ya. Aku mendukung gerakan transhumanis, Makanya aku tidak ingin jatuh cinta”

Perempuan itu kaget lagi. Mengapa ia sendiri bisa berkata hal yang tidak penting sedemikian panjang? Ya Tuhan, rasanya seperti membuka rahasia sendiri di depan teman kerja yang bahkan tidak terlalu dekat dengannya. Dan ia laki-laki.

“Aku yakin kau tidak mungkin tiba-tiba mendukung gerakan seperti itu apabila tidak ada latar belakangnya. Kau mungkin pernah jatuh cinta dan disakiti, mungkin ditinggalkan ketika kamu masih mencintainya? Dan kini perasaanmu masih membekas sehingga kau tidak bisa membuka hatimu untuk orang lain dan menolak siapapun, hingga akhirnya memutuskan menjadi perawan tua”

Tebakanmu sedikit salah. Aku tidak semurni seorang perawan. 

“…..jadi bagaimana? Apa aku salah?”

“Salah.” aku bohong

“Baiklah aku salah” ia tertawa kembali. “Aku tidak akan memaksamu. Aku tidak akan menggodamu. Aku hanya ingin teman untuk menemaniku melihat langit dari pantai. Kau tahu? Itu indah sekali”

Lalu ia meneruskan

“Aku akan menunggumu nanti malam disini” ia tersenyum lagi.

Lalu si laki-laki berlalu pergi, meninggalkan si perempuan menatap punggungnya yang kian menjauh dengan perasaan heran berkecamuk. Haruskah ia, si perempuan, kembali membuka hatinya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s