Disaat aku menangisi hal lain (bukan menangisinya) aku merasa menangis menjadi hal yang tidak percuma.

Sejak berpacaran dan sejak putus rasanya aku jadi lebih melankolis dan sensitif, yang tentunya sangat tidak keren. Aku menangisi hal-hal kecil juga hal-hal yang menurutku indah.

Mungkin ada arti tertentu dibalik tangisanku, aku juga tidak tahu padahal aku yang menangis. Mungkin selalu ada kesedihan yang tertinggal lalu terbawa bersama perasaan haru dan perasaan senang sehingga aku menangisi banyak hal. Namun ketika aku mulai menangisi apapun aku mulai berpikir kepada Tuhan, “Tuhan, mengapa air mata tidak bisa dihisap kembali seperti ingus? Aku capek menangis terus”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s