ketika

ketika aku selalu menjadi pilihan terakhir oleh ia yang terkasih. Oleh ia, seorang laki-laki yang entah dimana, aku ini tidak berarti.

ketika ia, laki-laki yang sama, selalu menjadi pilihan pertamaku.

Ironis.

Begitu berbeda satu dengan yang lain. Yang satu jadi pertama,dan yang satu jadi terakhir, bahkan setelah semuanya berbeda. Bahkan ketika kita hanya berteman kini.

Aku cuma ingin bertemu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s