suatu hari

suatu hari ketika si pelukis langit mulai lelah dan ingin beristirahat, ia selimuti lukisan langitnya dengan selimut kelabu dan ia tertidur sebentar. ia menciptakan mendung.

Mendung, suasana yang begitu menyenangkan apabila kita terlahir di kota-kota bertemperatur tinggi, seperti di tempat asalku. Mendung, pemandangan yang begitu indah. Warna kelabu dimana-mana, bergradasi hingga ada sebagian langit yang berwarna putih karena bergradasi maksimal. Padahal warna kelabu itu rasanya tidak bersemangat, tetapi disisi lain memberi ketentraman di hati, tak terkecuali kegalauan.

Rasanya begitu hampa ketika bertatapan langsung dengan langit abu-abu. Seakan-akan menjadi refleksi diri sendiri, diriku yang abu-abu.
Warna abu-abu, warna yang tak berpendirian. Apakah ia putih? Apakah ia hitam? Tapi sebenarnya ia hanya abu-abu.

Abu-abu, suatu warna yang tidak yakin akan dirinya. Terkadang ia begitu cepat sedih, terkadang ia begitu cepat gembira, namun ia lebih sering sedih.

Langit abu-abu, sebagai sesamamu dalam wujud manusia, bolehkah aku bercerita padamu?
Kisahku sudah banyak didengar olehmu, langit. Kisahku sudah berjalan hampir satu bulan.

Kisahku ini selalu teringat seseorang. Seseorang itu dulunya begitu berarti langit.

ah, sekarang kau menangis langit.

sekarang pun ia masih berarti, dan akan terus berarti walau ia hanya teman sekarang.
langit abu-abu, kamu begitu luas, kamu pasti bisa melihat seisi bumi kan? apakah kamu melihat dia sekarang?
apakah ia sehat langit?
semoga ia baik-baik saja.

terimakasih langit kelabu sudah mendengarkanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s