hang in there

Aku melayang-layang dan sampai di tempat ini. Aku tidak tahu dimana aku berada sekarang.
Kakiku terendam air semata kaki, air dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulangku.
Semua seakan redup namun kilatan cahaya kecil ada dimana-mana sejauh mata memandang. Mereka berkumpul dalam suatu pusaran kasat mata.
Kabut ether berwarna kelabu menyelubungiku, memberiku nafas kehidupan. Disela-selanya terdapat bunga putih, konon itulah sumber ether.

Aku mungkin berada di semesta.

Lalu kehampaan dengan cepat menggerogoti bagian kiri tubuhku hingga ke tulang. Aku terlalu asik memandangi semesta aku lupa aku tinggal dalam kehampaan. Segalanya membutuhkan pengorbanan, termasuk melihat semesta. Aku setengah tulang belulang kini.
Kulirik tangan kiriku yang kini kerangka, ujung jari telunjuk cukup tajam untuk melukai kulit.
Aku tancapkan jariku sedalam samudera ke dalam dadaku lalu aku mengambil sesuatu.

Jantungku.

Ia masih berdegup, setiap degupan kian memelan hingga akhirnya mendingin dan berhenti.
Aku tersenyum.
Kulirik semesta lalu aku berkata,
“Aku akan bertahan”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s