surat kepada diri sendiri

“We accept the LOVE we think we DESERVE”

 

Sub: Apa kau baik-baik saja?

Hai sahabat, satu hal yang aku patut puji dari dirimu adalah kekuatanmu.
Bukan fisikmu, (aku tahu fisikmu lemah), melainkan mentalmu.
Aku tahu kamu sudah sering merasa lelah,
kamu bahkan berpikiran untuk kembali ke langit,
Tapi berapa kali pun orang itu mengecewakanmu kamu tetap bangun lagi. Kamu tetap bertahan dengan dia.

***
(Walaupun di sela-sela pertahanmu kamu diserbu tetes-tetes air mata hingga matamu sakit, serta ketakutan yang membuatmu hampir gila)

Hai sahabat yang lelah.
Untuk apa lagi kamu bertahan? Atau lebih tepatnya untuk siapa?
Apakah orang itu masih menginginkanmu? Apakah orang itu masih mempertahankanmu?
Apakah orang itu masih pantas dipertahankan?

Kalau iya,
Apakah ia peduli akan kabarmu?
Apakah ia rindu padamu setelah beberapa hari tidak bertemu?
Apakah ia berusaha mengajakmu pergi?

Jika tidak, sahabat, mengapa kamu yang melakukan itu semua untuknya? Sementara dia tetap tak peduli padamu?
Mungkin dia memang tidak mencintaimu, seperti kata ayahmu.

Sahabat jangan tangisi aku, aku ini dirimu sendiri.

Sahabat, kau menangisi dirimu sendiri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s