Aside

Saat aku menuliskan post pertamaku ini, lagu my favorite things  – the sound of music pun menemani setiap baris kalimat yang kutuliskan , walaupun dengan volume kecil.

Apakah benar disaat aku sedih, mengingat hal-hal yang menyenangkan akan menghiburku? Lagipula apa saja hal-hal yang menyenangkan? Hmm. Sebenarnya sederhana kok,

“…..tapi entah kenapa hal-hal sedih terasa lebih dominan.”

Pernahkah kamu diam menatap langit lalu merasa rindu? Aku selalu begitu. Aku senang ketika memandangi langit seakan-akan aku memandangi rumahku sendiri. Tapi aku terlalu kotor untuk tinggal di langit yang lembut. Ketika berjalan aku suka memandangi langit, ketika aku naik motor pun aku suka memandangi langit, lalu terkadang aku mengajaknya berbicara dari hati ke hati 

“Langit……biru”

“Langit, hari ini aku sedih, bawa aku pulang saja” dan lainnya.

Lalu warna biru langit yang lembut lumayan melegakan hatiku, meskipun tidak setiap waktu. Ada kalanya aku pun tidak bisa mengandalkan langit. Rasa sedih itu ada berbagai macam tingkatannya, dan ada batas kemampuan langit untuk menghiburku. Aku selalu merasa bahwa seharusnya aku tinggal di langit saja, bukan meninggal, tetapi benar-benar berada disana. Aku pasti bahagia sekali.

Langit pun bisa sedih. Di kala sedih warnanya berubah kelabu. Lalu langit menangis, menghidupkan serta kenangan-kenangan setiap insan di bumi, menyegarkan dahaga tumbuhan yang dilupakan majikannya.

Terimakasih Tuhan telah menciptakan langit 🙂 Langit mungkin bukan satu-satunya hal yang kusukai, tapi percayalah aku sangat suka padanya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s